img 20261012 wa0059

NeoIndo.com: Masyarakat dan perwakilan LAZ Gerakin PB IKA PMII dan PC IKA PMII Bangkalan saat melaksanakan sholat istisqa di lapangan Tokotoh, Desa Bandung, Kecamatan Konang, Bangkalan, Senin (12/10/2026).

NeoIndo.com, Bangkalan — Kemarau panjang yang memicu krisis air bersih di sejumlah wilayah mendorong Lembaga Amil Zakat Gerak Kita Indonesia (LAZ GERAKIN) PB IKA PMII bersama PC IKA PMII Kabupaten Bangkalan menggelar salat istisqa di Lapangan Tokotoh, Desa Bandung, Kecamatan Konang, Bangkalan, Jawa Timur.

Selain berikhtiar melalui salat istisqa, kedua lembaga tersebut menyalurkan bantuan 1.000.000 liter air bersih untuk warga terdampak kekeringan di wilayah setempat.

Direktur LAZ GERAKIN PB IKA PMII, H. Sandi Suwardi Hasan, mengatakan inisiatif menggelar salat istisqa telah direncanakan sejak sekitar satu bulan lalu. Langkah tersebut dilatarbelakangi kemarau panjang yang melanda berbagai daerah, disertai kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Indonesia.

Menurut Sandi, pihaknya telah berkoordinasi dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait pelaksanaan salat istisqa. Ia berharap hujan segera turun untuk mengatasi kekeringan, memenuhi kebutuhan air masyarakat, sekaligus membantu memadamkan kebakaran.

“Kami berharap hujan tidak hanya turun di Bangkalan dan Madura, tetapi juga di daerah lain yang saat ini mengalami kemarau panjang,” kata Sandi.

Ia menegaskan, persoalan kekeringan tidak bisa hanya dilihat dari dampaknya terhadap sektor pertanian. Ketersediaan air bersih juga berkaitan langsung dengan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, mulai dari mandi, mencuci, hingga sanitasi.

Di Madura, kata Sandi, terdapat kondisi yang perlu menjadi perhatian bersama. Sebagian petani tembakau membutuhkan kondisi cuaca tertentu agar kualitas hasil panen terjaga. Namun, kebutuhan tersebut tidak boleh mengabaikan hak masyarakat atas ketersediaan air bersih.

“Jangan sampai demi kepentingan tembakau, kebutuhan dasar masyarakat justru terabaikan. Kebutuhan air untuk mandi, mencuci, dan sanitasi tetap harus terpenuhi,” ujarnya.

Sandi mengatakan, penyaluran air bersih merupakan langkah darurat untuk membantu masyarakat menghadapi kekeringan. Sementara itu, upaya jangka panjang perlu disiapkan agar persoalan serupa tidak terus berulang setiap musim kemarau.

LAZ GERAKIN, lanjut dia, berupaya berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk mendistribusikan air dari wilayah yang masih memiliki sumber air memadai ke daerah yang mengalami kekurangan pasokan.

Pihaknya juga membuka peluang untuk berkonsultasi dengan ahli cuaca dan geologi guna mengkaji potensi sumber air bawah tanah, termasuk kemungkinan pengeboran di wilayah terdampak.

Sandi berharap kalangan akademisi, termasuk mahasiswa dan tenaga ahli di bidang teknik serta geologi, dapat berkontribusi mencari solusi atas krisis air yang dialami masyarakat Bangkalan dan daerah lain di Jawa Timur.

Menurut dia, langkah mitigasi perlu dilakukan sebelum dampak kekeringan semakin meluas, termasuk terhadap kesehatan warga dan aktivitas pendidikan.

Sementara itu, Ketua PC IKA PMII Kabupaten Bangkalan, Mohtazul Farid, terlibat dalam kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya membantu masyarakat setempat menghadapi dampak kekeringan.

Melalui kolaborasi dengan LAZ GERAKIN PB IKA PMII, PC IKA PMII Bangkalan turut mendukung pelaksanaan salat istisqa dan penyaluran air bersih di Kecamatan Konang.

Kegiatan tersebut diharapkan dapat meringankan beban warga sekaligus memperkuat kepedulian berbagai pihak terhadap persoalan ketersediaan air bersih di wilayah Bangkalan.

Salah seorang warga Desa Bandung, Ramais, mengaku terbantu dengan bantuan air bersih yang disalurkan dalam kegiatan tersebut. Bantuan itu menjadi salah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah keterbatasan air akibat kemarau panjang.

Warga berharap bantuan serupa dapat terus diberikan selama kekeringan masih berlangsung. Di sisi lain, persoalan tersebut menjadi pengingat pentingnya penanganan kekeringan secara terpadu.

Selain bantuan darurat, pemetaan sumber air, pembangunan infrastruktur penyediaan air, dan mitigasi berbasis kondisi wilayah diperlukan untuk mengurangi risiko krisis air pada musim kemarau berikutnya. (*/hy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *