NeoIndo.com: Rektor UTM Safi’ (empat dari kiri) saat berfoto dengan para warek dan tim relawan KKNT Kemanusiaan Aceh di Lantai 1 Graha Utama, UTM, Senin (26/1/2026). NeoIndo.com, Bangkalan — Universitas Trunodjoyo Madura (UTM) memberangkatkan delapan relawan mahasiswa dalam program Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Kemanusiaan Aceh di Desa Paya Rabo Lhok, Aceh Utara, di Lantai satu Graha Utama UTM, Senin (26/1/2026). Sekretaris LPPM UTM M Latif mengatakan, kegiatan KKNT Kemanusiaan sesuai arahan warek 1, program tersebut tidak hanya program jangka pendek, tetapi jangka panjang. Bentuknya tidak hanya bantuan, tetapi juga pemberdayaan transfer keilmuan dan pengalaman baru yang diperoleh UTM. “Tim berasal dari lima fakultas, tiga dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Dua dari Fakultas Teknik, Fakultas Ilmu Sosial dan Budaya, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, dan Fakultas Hukum masing-masing satu orang, proses ini dilalui dengan seleksi ketat, dilihat dari kesiapan tim, kecepatan dan ketepatan menyelesaikan masalah,” katanya, Senin (26/1/2026). Dari 61 orang pendaftar, setelah diberikan gambaran kondisi bencana di aceh peserta tersisa 20 orang, setelah dilakukan wawancara, ada 8 orang yang terpilih, dan akan berangkat dan tinggal dua bulan di Aceh Utara. “Penentuan tempat di pilih melalui survey, UTM juga mengirim bantuan 8 Mesin penjernih air, 700 Kg barang, donasi berupa uang Rp101.469.491 juta yang dikumpulkan melalui seluruh civitas akademika UTM,” jelasnya. Rektor UTM Safi’ mengatakan, progran KKNT Kemanusiaan diharapkan dapat memberikan manfaat nyata untuk masyarakat yang terdampak bencana alam. Belakangan terjadi perubahan cuaca ekstrem di berbagai belahan daerah. “Program ini memang saya minta khusus ke Warek, untuk ikut melakukan solidaritas sosial untuk para korban bencana alam,” katanya, Senin (26/1/2026). Di Aceh, ada kampus yang pendirian dan negerinya berbarengan dengan UTM, yakni Universitas Malikus Shaleh. Respon cepat LPPM untuk membentuk tim perlu di apresiasi bersama. Agar UTM tidak hanya menyalurkan bantuan. Tetapi juga ada edukasi dan keilmuan yang bisa diberikan dari UTM untuk para korban disana. “Delapan mahasiswa dan dua dosen ini merupakan pilihan, untuk aktif memberikan solusi kepada masyarakat disana,” tuturnya. Rektor mengingatkan agar senantiasa menghargai dan menyesuaikan adat istiadat di Aceh yang menjunjung tinggi syariat islam. Sehingga diharapkan, para mahasiswa bisa menyesuaikan, dan tidak melanggar aturan dan kebiasaan masyarakat disana. “Kalau disini berduaan perempuan dan laki laki mungkin biasa, tapi disana tidak boleh, jadi mari saling menjaga adat istiadat ini,” jelasnya. Kata Safi’ ada inovasi yang akan dibawa oleh tim. Selain membawa delapan mesin penjernih air, tim akan memanfatkan lumpur bekas banjir dan longsor menjadi batu bata. Tentunya, ide tersebut sudah melalui riset dan pembelajaran di sejumlah tempat. “Jangan jadikan KKNT ini hanya berniat mengajari, tapi sebanyak mungkin, tim belajar, bagaimana masyarakat aceh bertahan ditengah berbagai tantangan,” ulasnya.(*/hy) Navigasi pos PWI Bangkalan di Seminar Instiba, Pers Era Post Truth dan Krisis Kepercayaan Publik Model Cilik Berbakat, Cucu Sopir Angkot di Bangkalan Ukir Beragam Prestasi Gemilang di Ajang Fashion Show